Pelatihan Fisioterapi Berskala Internasional Ubah Cara Guru dan Orang Tua Mendampingi ABK di Banyuwangi
- account_circle BIN
- calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Perkins International, organisasi global yang berpusat di Boston, Amerika Serikat, kembali memperkuat dukungannya terhadap pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Banyuwangi melalui penyelenggaraan pelatihan fisioterapi untuk guru dan orang tua. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendampingan bagi anak-anak dengan hambatan fisik, sehingga mereka dapat berkembang lebih optimal dalam kesehariannya. Pelatihan ini berlangsung dengan antusiasme besar dari para peserta, baik guru SLB maupun orang tua ABK. Jumat, 28 November 2025.
Ratusan guru dan orang tua di Banyuwangi mengikuti kegiatan tersebut sebagai upaya memahami fisioterapi dasar bagi anak dengan kebutuhan khusus. Pelatihan ini menjadi bekal penting agar pendamping mampu membantu anak mengembangkan fungsi otot dan kemampuan motorik mereka secara maksimal. Tidak hanya teori, para peserta juga mendapatkan praktik langsung dengan metode yang mudah diterapkan di rumah maupun sekolah.
Para peserta dibimbing langsung oleh pakar Fisioterapis Pediatrik Neuro asal India, DR Loganathan Gurusamy. Dalam pelatihan tersebut, DR Loganathan mengajarkan berbagai teknik untuk membantu anak mengaktifkan otot, mulai dari gerakan sederhana hingga metode stimulasi motorik yang dapat diterapkan setiap hari. Sebagian pengamatannya disampaikan dalam penjelasan bahwa budaya Asia Tenggara menunjukkan ikatan sangat kuat antara orang tua dan anak. Menurut DR Loganathan, “Melindungi itu bagus, tapi kita harus tahu kapan kita harus melakukannya. Tidak boleh berlebihan sehingga tidak menyebabkan anak terlalu bergantung pada orang tua, terutama pada anak anak penyandang disabilitas”.
DR Loganathan menambahkan bahwa anak perlu dilibatkan dalam aktivitas harian agar otot mereka tidak semakin melemah. Menurutnya, “Anak harus dilatih untuk bisa berpartisipasi aktif dalam kegiatan sehari-hari, salah satunya agar ototnya tidak semakin melemah.” Ia kemudian mencontohkan beberapa gerakan yang dapat dilakukan guru dan orang tua untuk menstimulus tubuh anak.
Salah satu teknik sederhana yang diajarkan adalah meminta anak bergerak aktif saat hendak dipindahkan, bukan langsung digendong. DR Loganathan menyampaikan, “Anak jangan langsung digendong jika ingin dipindahkan atau diantarkan ke ruang tertentu, tapi mereka diminta menggerakkan tubuhnya secara aktif ke depan sesuai instruksi yang diberikan guru atau orang tua.”
Wartini, salah satu orang tua ABK yang ikut pelatihan, menyampaikan pengalamannya. Wartini mengatakan bahwa pelatihan ini sangat membantu karena anaknya adalah penyandang Cerebral Palsy. Wartini menjelaskan sebagian kutipannya dengan mengatakan bahwa usia anaknya sudah 11 tahun namun belum bisa berdiri tegak. Ia mengungkapkan, “Sekarang usianya 11 tahun, tapi jalannya masih ngesot. Belum bisa berdiri tegak. Dengan mengikuti pelatihan seperti ini saya mendapatkan cara yang pas untuk mengajarkan anak saya untuk bisa berdiri.”
Ariensa Gita Pralistyo, guru SLB Negeri Banyuwangi, juga merasakan manfaat besar dari kegiatan ini. Menurut Ariensa, pelatihan ini membuka wawasan baru terkait keselamatan ketika mengangkat siswa penyandang disabilitas. Ariensa menyampaikan, “Selama ini saya tahunya kalau mengangkat anak ya langsung diangkat saja. Ternyata itu justru bahaya buat tulang punggung mereka dan ada caranya tersendiri yang aman. Saya juga belajar bagaimana kita harus berkomunikasi aktif dengan anak agar mau melakukan gerakan.”
Dengan materi yang komprehensif dan pembimbing profesional, pelatihan ini diharapkan dapat menciptakan pola pendampingan yang lebih baik bagi anak-anak ABK di Banyuwangi. Para guru dan orang tua kini memiliki pengetahuan baru untuk membantu anak lebih mandiri, sekaligus menurunkan risiko cedera selama proses pendampingan.*
Penulis BIN
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.




Saat ini belum ada komentar